Negeri ini Masih Tidur
Di
sebuah kampung di kota Magelang, tinggalah seorang wanita separuh baya bernama
Ibu Janah bersama duaorang anaknya. Anak pertamanya bernama Didin, dan yang
kedua bernama Sri. Didin yang kira-kira berumur dua belas tahun itu terpaksa
tidak melanjutkan sekolahnya seperti anak-anak seumurannya dikarenakan
kurangnya biaya. Ironisnya, diumur yang terbilang masih kecil itu, ia harus
menjadi tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya yang telah lama tiada
sejak ia balita dengan menjadi tukang semir sepatu. Walaupun penghasilannya
tidak seberapa, ia sangat bersyukur karena masih bisa berguna bagi keluarga
kecilnya itu.
Meskipun
Didin hanya lulusan sekolah dasar , namun ia merupakan anak yang memiliki jiwa
nasionalis dan optimis yang sangat luar biasa. Pekerjaannya sebagai tukang
semir sepatu yang sehari-hari berkeliling dari Alun-alun Kota Magelang, ke
Jalan Pahlawan, hingga ke Taman Badaan tidak menyurutkan semangatnya untuk
menjaga kewibawaan Sang Merah Putih. Setiap ia bekerja dan berkeliling sekitar
Magelang, ia melihat salah satu sekolah dasar yang tiang benderanya terdapat bendera namun sudah
terlihat lusuh, kotor, dan sangat memperihatinkan. Dengan penghasilannya yang
pas-pasan, Didin bercita-cita bisa membeli sesuatu yang kecil tetapi merupakan
suatu kebanggan dan penuh pertumpahan darah guna mendapatkan dan mendirikannya
di sebuah tiang sekolah dasar yang
tinggi, yaitu Bendera Merah Putih.
Pagi
ini merupakan hari Minggu. Didin tidak bekerja seperti biasanya karena banyak
pekerja kantoran yang membutuhkan jasa semir sepatunya libur. Tetapi, ia
berencana untuk pergi keluar rumah dan membeli sesuatu yang dicita-citakannya
selama ini, Sang Merah Putih. Setelah mandi dan merapikan diri, ia bergegas
menuju kamarnya yang tidak memiliki pintu hanya menggunakan korden tipis namun
tampak sangat rapi. Ia langsung mengambil celengan yang berisi tabungannya yang
ia simpan di bawah tempat tidur kayu yang sangat tua itu. Tanpa ragu-ragu, ia
memecah celengan celengan dari tanah litanya itu. Uang recehan yang sangat
banyak itupun tersebar di lantai dan beberapa lembar uang kertas. Setelah
menata uang yang ia keluarkan dari celengan, ia mengantongi ke saku celananya.
Tanpa berpamitan kepada ibunya yang sedang di dapur dan berpamitan dengan candaan
ke adiknya yang sedang asyik bermain, ia langsung pergi meninggalkan rumah.
Setelah ibunya dari dapur, beliau menghampiri Sri sambil bertanya, “Sri, “Didin
ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya? “ tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi bersama
teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu, “ jawab Sri.
“O alah, Din, Telolet
ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat.”
jawab Bu Janah.
Sri tetap asyik bermain
sambil memperhatikan ibunya itu.
Didin
tiba di toko daerah Pecinan Jalan Pemuda Magelang dan langsung mencari toko
yang menjual bendera Indonesia itu. Setelah menemukan, ia langsung membeli
sesuai ukuran yang dikehendakinya. Dan ia pun mengeluarkan uang untuk membayar
tanpa ragu-ragu. Keluar dari toko tersebut, ia langsung menuju sekolah dasar
yang benderanya akan diganti itu. Ia mengendarai angkutan umum karena jaraknya
cukup jauh. Saat ia sampai di di sebuah sekolah dasar tersebut, ia langsung
menuju lapangan tempat para warga sekolah itu melaksanakan upacara. Keadaan
sekolah tampak sangat sepi karena saat itu adalah hari Minggu. Didin segera
menguraikan tali pada tiang bendera tersebut untuk menurunkan bendera yang
semulanya tampak lusuh dan menggantinya dengan bendera yang baru saja dibelinya.
Setelah menaikkan Sang Merah Putih tersebut, ia tampak bangga sekali melihat
benderanya berkibar ditiup oleh angin.
Selang
satu hari berikutnya, pada saat hari Senin seluruh warga sekolah tersebut
melaksanakan upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dihadapan
bendera Merah Putih baru. Didin yang berkeliling saat bekerjapun tersenyum puas
dan bangga saat melewati dan melihat seluruh warga sekolah yang sedang
melaksanakan upacara dengan melakukan pengibaran bendera darinya. Namun, saat
beberapa hari setelah upacara bendera berlangsung, ia dipanggil untuk menyemir
sepatu salah seorang guru sekolah dasar itu dan melihat bendera pemberiannya
digunakan bapak penjaga sekolah untuk membersihkan kopi yang tumpah hingga
menjadi kotor mengotori warna putih yang suci itu. Didin sangat terharu hingga
menitikkan air matanya, dan ia tidak menyangka karena di lingkungan sekolah
yang dikenal dengan banyaknya orang yang berpendidikan ternyata tidak seperti
yang ia bayangkan. Masih ada orang di negeri kita, Indonesia yang belum terbuka
matanya dan sadar akan jiwa nasionalisme serta kesadaran menghormati jasa para
pahlawan yang telah gugur mempertahankan Sang Merah Putih untuk negara kita.
Terinspirasi dari film : Indonesia masih Subuh
Terinspirasi dari film : Indonesia masih Subuh
Ya, sebaiknya dialog masuk menjadi aline baru.
BalasHapusVideonya, mana?